BANJARMASIN — Toleransi di Banjarmasin bukan sekadar slogan. Indeks terbaru menempatkan kota ini di posisi 13 nasional, mengungguli puluhan kota besar lain. Prestasi ini berbanding lurus dengan arus migrasi yang terus mengalir ke Banjarmasin.
Bagi warga pendatang, daya tarik utama bukan sekadar lapangan kerja. "Kondisi sosial yang relatif kondusif" menjadi magnet yang membuat perantau betah menetap. Suasana aman dan saling menghormati antarwarga dari latar belakang berbeda dinilai lebih penting dibanding sekadar upah tinggi.
Mengapa Perantau Memilih Menetap di Banjarmasin?
Kota ini menawarkan lebih dari sekadar peluang ekonomi. Kerukunan antarumat beragama dan etnis yang terjaga selama puluhan tahun menciptakan rasa aman bagi pendatang. Seorang perantau dari Jawa Timur misalnya, bisa membuka warung di tengah permukiman warga asli Banjar tanpa canggung.
Interaksi sosial yang cair juga terlihat di pasar terapung, masjid, dan kelurahan. Tidak ada sekat yang kaku antara pendatang dan warga lokal. Pola ini sudah berlangsung lintas generasi.
Kota Toleran: Modal Besar untuk Pertumbuhan Ekonomi
Peringkat toleransi yang tinggi berdampak langsung pada sektor riil. Semakin banyak perantau yang datang, semakin hidup roda ekonomi di sektor UMKM, jasa, dan perdagangan. Banjarmasin tidak hanya dikenal sebagai kota seribu sungai, tetapi juga kota yang ramah untuk siapa saja yang ingin memulai hidup baru.
Pemkot Banjarmasin sendiri terus mendorong program-program kerukunan, mulai dari forum komunikasi antaragama hingga kegiatan sosial yang melibatkan semua elemen. Hasilnya, tensi sosial tetap terkendali meskipun arus urbanisasi terus meningkat.
Kondusifitas Sosial: Bukan Sekadar Angka
Peringkat 13 secara nasional bukanlah angka yang tiba-tiba. Ini akumulasi dari kebiasaan sehari-hari warga Banjarmasin yang menjunjung tinggi gotong royong dan tepa selira. Di tingkat RT dan RW, perbedaan suku dan agama jarang menjadi persoalan.
Sebaliknya, justru keberagaman ini menjadi perekat sosial. Warga keturunan Tionghoa, Banjar, Bugis, dan Jawa hidup berdampingan. Mereka saling mengunjungi saat hari raya, bahkan terlibat dalam kegiatan sosial bersama.
Bagi para pencari kerja yang ingin pindah ke Kalimantan Selatan, Banjarmasin menawarkan jaminan lebih: bukan hanya soal gaji, tetapi soal lingkungan tempat mereka akan membesarkan anak dan menjalani hari tua.