KALIMANTAN SELATAN — Fiji menetapkan HIV sebagai darurat nasional setelah infeksi melonjak 12 kali lipat dalam 15 tahun. Data UNAIDS menunjukkan 1 dari 50 ibu hamil di negara itu hidup dengan HIV, sementara hanya 39 persen pasien yang tahu statusnya.
Keputusan Fiji menaikkan status HIV dari wabah menjadi darurat nasional diumumkan bulan ini. Menteri Kesehatan Fiji, Antonio Lalabalavu, menyebut respons lama sudah tidak memadai karena jumlah orang yang hidup dengan HIV di negara berpenduduk kurang dari satu juta jiwa itu kini mencapai sekitar 9.000 orang pada 2025.
Angka itu setara 1 dari 60 orang dewasa di Fiji, naik tajam dibanding 1 dari 167 orang lima tahun sebelumnya. Di kalangan perempuan hamil, proporsinya lebih mengkhawatirkan lagi: 1 dari 50 ibu hamil diketahui mengidap HIV.
Lalabalavu menegaskan lonjakan ini tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa. "Ini berarti HIV kini telah menjadi krisis nasional dan pemerintah menanganinya sebagai sebuah krisis. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan seperti biasa," katanya, dikutip dari Fox59.
Pemerintah Fiji akan memperluas tes HIV gratis dan pengobatan gratis bagi mereka yang dinyatakan positif. Jarum suntik bersih juga disediakan bagi pengguna narkoba untuk menekan penularan lewat jalur itu.
Namun data UNAIDS memperlihatkan celah besar: hanya 39 persen pasien HIV di Fiji yang mengetahui status mereka, dan cuma 22 persen yang menjalani pengobatan antiretroviral. Artinya mayoritas kasus baru terdeteksi terlambat, termasuk pada ibu hamil.
Penularan HIV dari ibu ke anak bisa terjadi selama kehamilan, proses persalinan, atau saat menyusui. Mengutip Medlineplus, hanya darah, air mani, cairan vagina, dan ASI yang terbukti menularkan infeksi HIV.
Virus ini tidak menular lewat pelukan, sentuhan, handuk, atau air liur yang tidak bercampur darah. Stigma yang keliru soal cara penularan justru membuat banyak ibu enggan memeriksakan diri sejak awal kehamilan.
Infeksi HIV memengaruhi kesehatan ibu, hasil kehamilan, dan kondisi bayi sehingga butuh pemantauan medis sepanjang kehamilan. Tanpa terapi antiretroviral (ART), risiko penularan dari ibu ke bayi mencapai 15 hingga 45 persen.
Bayi yang lahir dengan HIV dan tidak segera di