KALIMANTAN SELATAN — Honda Super One ternyata bukan sekadar micro EV biasa — dalam first drive singkat di Cikarang, mobil listrik edisi terbatas ini menawarkan kabin depan yang lega, akselerasi gesit, dan mode Boost yang bikin ketagihan. Dengan harga Rp 400 jutaan dan baterai 29,6 kWh berklaim jarak 274 km WLTC, Super One menyasar pembeli kota yang ingin EV ringkas tanpa mengorbankan sensasi berkendara.
Uzone.id berkesempatan mencoba langsung Honda Super One bersama rekan-rekan Honda Owner Jurnalis (HOJ) di Honda Cikarang, Jawa Barat. Ini bukan uji jangka panjang, melainkan sesi first drive singkat — cukup untuk merasakan karakter awal mobil, tapi belum untuk menilai durabilitas baterai atau konsumsi listrik riil harian.
Kesan pertama saat masuk ke kabin: lega. Tatanan dashboard enak dilihat, terasa berkelas, dan masih menyuguhkan banyak tombol fisik — sesuatu yang kini langka di EV modern yang serba layar sentuh.
Jok semi bucket di baris depan memeluk punggung dengan baik. Posisi duduk sporty, visibilitas ke depan, samping, dan belakang tergolong baik. Yang menarik, baris belakang yang semula diperkirakan sempit ternyata masih menyisakan ruang kaki cukup nyaman. Posisi duduk penumpang belakang tidak dipaksakan.
Honda membekali Super One dengan baterai 29,6 kWh, klaim jarak 274 km versi WLTC, tenaga 64 PS, dan torsi 162 Nm. Di atas kertas, angka ini tergolong kecil untuk sebuah EV.
Namun berkat rasio tenaga terhadap bobot yang menguntungkan, karakter akselerasinya justru gesit dan lincah. Respon setir dan sasis berpadu harmonis, manuver tajam, dan bantingan suspensi yang keras malah membuat handling terasa atraktif.
Ini poin penting: suspensi keras di mobil sekecil ini bukan kelemahan, melainkan bagian dari karakter fun to drive yang Honda kejar.
Saat mode Boost diaktifkan, tenaga melonjak instan dari 64 PS menjadi 95 PS. Akselerasi jadi lebih galag. Kompensasinya jelas — konsumsi listrik pasti lebih boros.
Yang bikin sesi ini terasa berbeda: Super One memuntahkan suara buatan layaknya mobil sport ICE melalui sistem audio Bose. Ada juga paddle shifter di belakang setir untuk menurunkan gigi — semuanya artificial, tapi efeknya menambah sensasi berkendara yang langka di EV.
Deruman suara saat pedal gas diinjak, sesekali diselingi penurunan gigi buatan, cukup untuk memancing adrenalin. Honda sepertinya paham bahwa sebagian pembeli EV masih merindukan sensasi mobil bersuara.
Beberapa hal yang belum bisa dinilai dari sesi first drive singkat ini: konsumsi listrik riil di luar klaim WLTC, durabilitas baterai setelah pemakaian lama, kenyamanan suspensi keras untuk penumpang belakang di jalan rusak, dan ketersediaan jaringan layanan purna jual untuk mobil edisi terbatas.
Harga Rp 400 jutaan juga menempatkan Super One di segmen yang tidak murah untuk ukuran micro EV. Pembeli di rentang ini punya banyak pilihan, termasuk EV merek Tiongkok dengan fitur lebih lengkap di harga serupa.
Untuk kebutuhan daily di dalam kota, Honda Super One menjanjikan pengalaman berkendara yang menyenangkan. Driving impression-nya tergolong superior di antara EV sekelasnya — setidaknya berdasarkan sesi singkat ini.
Cocok buat kamu yang sudah percaya pada Honda, ingin EV ringkas untuk mobilitas kota, dan tidak masalah dengan suspensi keras asal handling-nya seru. Kurang cocok buat yang cari EV dengan jarak tempuh jauh, fitur serba lengkap, atau kenyamanan suspensi maksimal.
Verdict final menunggu uji jangka panjang: konsumsi listrik riil, durabilitas baterai, dan biaya kepemilikan.