Tuan Guru Haji Madyan Noor Mar'ie menegaskan bahwa orang Muslim yang tidak mau bekerja bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Penegasan itu disampaikannya dalam tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu malam. Dalam kajian tarikh tersebut, ia menuturkan jejak pekerjaan Rasulullah SAW sejak kecil sebagai penggembala dan pedagang.
BANJARMASIN — Tuan Guru Haji Madyan Noor Mar'ie menyatakan bahwa seorang Muslim yang tidak mau bekerja bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW atau Islam. Pernyataan itu disampaikan dalam tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu malam.
Menurutnya, Rasulullah SAW sendiri menjadi ikutan umat Islam dan sejak kecil sudah bekerja mencari biaya kehidupan. Hal itu ia sampaikan di hadapan jamaah Masjid Assa'adah.
Tuan Guru Madyan menuturkan, pekerjaan sebagai penggembala juga dijalani para rasul terdahulu seperti Nabi Ibrahim alaihi salam (as) serta Nabi Musa as. Rasulullah SAW, katanya, selagi masih belia mengambil upah menggembala kambing.
Upah dari pekerjaan itu diserahkan Beginda kepada "mamarina" atau paman yang memelihara beliau, Abu Thalib. Tuan Guru asal Amuntai itu menceritakan kehidupan Rasulullah SAW sejak usia sembilan tahun ikut paman beliau bernama Abu Thalib, saudara ayahandanya Abdullah, berniaga ke Negeri Syam yang sekarang bernama Syiria.
Dalam kajian tarikh dan dalam konteks Rabi'ul Awal atau bulan Maulid yang sudah berlalu itu, Tuan Guru Madyan menceritakan bahwa Rasulullah SAW sejak dalam kandungan ibundanya Aminah sudah yatim. Pada usia enam tahun, Beginda Rasul yatim piatu atau tiada ayah ibu dan dipelihara oleh kakek bernama Abdul Muthalib.
Namun tak lama Abdul Muthalib juga meninggal dunia sehingga Abu Thalib melanjutkan memelihara Rasulullah SAW. Tuan Guru yang lama menimba ilmu pengetahuan agama di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi tersebut merupakan keponakan almarhum KH Idham Chalid, mantan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II masa Presiden Soekarno.
Pada kesempatan tersebut, Tuan Guru yang masih mondar-mandir Banjarmasin-Jakarta mengurusi Pondok Pesantren peninggalan almarhum Idham Chalid itu menceritakan tanda-tanda Kerasulan Muhammad SAW sejak dalam kandungan ibundanya serta ikut berniaga dengan mamarina "sidin" atau beliau Abu Thalib.
Diceritakan, ketika perjalanan menuju Syam, bertemu seorang Pendeta Yahudi Buhaira di kota Busra. Pendeta itu berdasarkan Taurat, Kitab Suci Nabi Musa as, melihat tanda-tanda kebesaran kelak pada Muhammad SAW.
"Tanda-tanda keagungan atau kerasulan Muhammad SAW yang Pendeta Buhaira ketahui adanya 'nubuwah' di 'belikat' (bagian tulang belakang), serta awan yang menaungi sepanjang jalan," ujar Tuan Guru Madyan mengutip sejarah Rasulullah SAW karya Mohammad Arsyad Thaib Lubis, orang Sumatera Utara.
Oleh karenanya, Pendeta Buhaira berpesan kepada Abu Thalib agar betul-betul memelihara dan menjaga Muhammad SAW yang kelak menjadi orang besar dunia. Tuan Guru Madyan saat ini masih aktif mengurusi Pondok Pesantren peninggalan almarhum Idham Chalid dan pernah menjabat Ketua Persatuan Qari Qari'ah DKI Jakarta.