KALIMANTAN SELATAN — Persaingan tablet murah di Indonesia tidak lagi hanya soal spesifikasi layar dan baterai. Sepanjang 2026, produsen mulai menanamkan fitur kecerdasan buatan (AI) pada perangkat dengan harga di bawah Rp 3 juta, menyasar kebutuhan multitasking pelajar dan pekerja jarak jauh.
Berikut lima perangkat yang masuk dalam kategori ini berdasarkan rentang harga dan keunggulan utamanya:
Tablet ini mengandalkan pembaruan sistem operasi HyperOS yang membawa integrasi AI intuitif. Pengguna bisa memanfaatkan transkripsi suara-ke-teks otomatis untuk mencatat hasil rapat atau materi kuliah.
Perangkat ini juga memiliki pengoptimalan performa game berbasis cerdas. Harganya dibanderol mulai Rp 1,9 juta hingga Rp 2,2 juta.
Varian ini hadir dengan asisten cerdas Celia AI yang mampu merangkum dokumen kerja dalam hitungan detik. Fitur penerjemah bahasa real-time juga tersemat untuk membaca literatur asing.
Sistem manajemen ruang kerja multi-window otomatis menjaga navigasi layar tetap rapi saat membuka banyak aplikasi. Harganya berkisar Rp 2,7 juta hingga Rp 2,9 juta.
Perangkat di kelas harga Rp 1,8 juta hingga Rp 2,1 juta ini menanamkan modul akselerasi AI langsung di tingkat chipset. Proses penyuntingan foto harian menjadi lebih cepat berkat algoritma pencahayaan otomatis.
Efisiensi daya baterainya terjaga baik, mampu menemani aktivitas dari pagi hingga malam.
Perangkat ini mengandalkan asisten suara Folax yang digerakkan AI untuk membantu anak sekolah menjawab tugas pelajaran. Pengguna cukup memberi perintah suara untuk mengontrol aplikasi tanpa menyentuh layar.
Dengan layar luas dan resolusi tajam, kegiatan belajar mengajar menjadi lebih interaktif. Harganya berada di kisaran Rp 2,1 juta hingga Rp 2,4 juta.
Tablet ini dibanderol mulai Rp 1,6 juta hingga Rp 1,8 juta, menjadikannya pilihan paling terjangkau. Algoritma cerdasnya bertugas membagi beban kerja prosesor secara efisien saat menjalankan aplikasi berat.
Navigasi multi-jendela tetap berjalan lancar meskipun banyak tugas dibuka bersamaan, cocok untuk mendukung belajar anak.
Kehadiran AI pada tablet murah bukan sekadar gimmick pemasaran. Fungsinya berdampak langsung pada dua hal utama: manajemen daya baterai yang dioptimalkan secara otomatis dan performa chipset yang terdongkrak saat pemrosesan aplikasi berjalan bersamaan.
Bagi pelajar, kemudahan utamanya adalah mencari pemecahan soal rumit secara instan lewat perintah suara. Rangkuman otomatis juga membuat waktu belajar menjadi lebih singkat dan efektif.
Banyak calon pembeli bertanya apakah fitur AI ini membutuhkan koneksi internet terus menerus. Sebagian fitur pemrosesan AI tingkat lanjut memang butuh internet, namun fungsi optimasi baterai dan sistem bisa berjalan offline.
Soal kemampuan multitasking, tablet harga Rp 2 jutaan tetap lancar selama manajemen RAM dijaga dan algoritma pembagi beban kerja AI aktif secara optimal. Sementara itu, pena digital bawaan tidak selalu disertakan dalam paket penjualan—beberapa merek menjualnya terpisah sebagai aksesori.
Xiaomi Redmi Pad SE menjadi opsi paling worth it untuk dibeli karena dukungan pembaruan HyperOS AI membuat fiturnya terus diperbarui. Kualitas layar dan speaker Dolby Atmos miliknya juga terbaik di kelasnya.
Jika prioritas utama adalah pekerjaan, Huawei MatePad SE 11 layak dipertimbangkan. Kehadiran Celia AI membantu efisiensi pengolahan dokumen kerja, dengan ekosistem HarmonyOS yang stabil.
Memilih tablet AI murah kini menjadi opsi bijak untuk meningkatkan efisiensi kerja dan belajar tanpa menguras kantong. Kuncinya adalah menyesuaikan fitur unggulan dengan kebutuhan harian, apakah itu untuk produktivitas dokumen atau sekadar pendamping belajar interaktif.