Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, resmi meluncurkan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip), Amuntai, Kamis. Program yang menyasar 11 desa ini mengubah fungsi perpustakaan desa dari sekadar tempat membaca menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi warga, seperti tata boga, kreasi anyaman, dan pembuatan kain sasirangan.
AMUNTAI — Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, resmi meluncurkan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip), Amuntai, Kamis. Program ini menyasar 11 desa di wilayah setempat.
Lewat TPBIS, perpustakaan desa tidak lagi sekadar tempat meminjam buku. Ruang ini disiapkan menjadi tempat warga belajar keterampilan baru yang bisa menopang ekonomi keluarga.
Kepala Dispersip HSU, Karyanadi, menyebut perubahan peran ini merupakan respons atas kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
"Perpustakaan selain berfungsi sebagai tempat membaca, juga harus mampu menjadi ruang belajar dan mengembangkan keterampilan," kata Karyanadi dalam sambutannya.
Jenis pelatihan yang disiapkan menyesuaikan potensi lokal. Warga desa bisa mengikuti kursus tata boga, belajar membuat kreasi anyaman, hingga pelatihan membatik kain sasirangan khas Kalimantan Selatan.
Model ini diharapkan memberi dampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput. Perpustakaan desa bertransformasi menjadi semacam pusat kegiatan masyarakat (PKM) berbasis literasi dan keterampilan.
Asisten III Setda HSU, Najeriansyah, yang membacakan amanat bupati, menegaskan program ini sejalan dengan upaya penguatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
"Melalui TPBIS, perpustakaan desa diharapkan menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif," ujar Najeriansyah.
Ia menambahkan, keberadaan perpustakaan yang inklusif memungkinkan seluruh lapisan warga — dari anak-anak hingga lanjut usia — mengakses ilmu dan pelatihan tanpa hambatan.
Pada kesempatan yang sama, Pemkab HSU juga menyerahkan penghargaan kepada perpustakaan desa dengan pengelolaan terbaik serta pengunjung teladan tahun 2026. Pemberian apresiasi ini ditujukan sebagai motivasi bagi pengelola dan warga agar terus aktif menghidupkan perpustakaan.
Acara peluncuran dihadiri Asisten III Najeriansyah, Kepala Dispersip Karyanadi, para pengelola perpustakaan desa, serta peserta pelatihan yang akan mengikuti program TPBIS tahap awal.
Dengan adanya program ini, Dispersip HSU berharap tidak ada lagi perpustakaan desa yang sepi peminat. Ke depan, setiap desa diharapkan mampu menjadikan perpustakaannya sebagai pusat kegiatan warga yang produktif dan berkelanjutan.