KALIMANTAN SELATAN — Kami menjajal prototipe pra-produksi Eclipse Sportback di area Seattle, Amerika Serikat. Perlu ditegaskan sejak awal: ini kesan pertama dari pengujian singkat, bukan review jangka panjang. Namun dari rute yang mencakup bundaran, penyempitan jalan, dan lalu lintas campuran, karakter dasarnya sudah cukup terbaca.
Mitsubishi memposisikan mobil ini sebagai tiket kembali ke pasar EV Amerika—hampir satu dekade setelah i-MiEV yang cuma punya range 62 mil gagal menarik minat. Pendekatannya kali ini jauh lebih masuk akal: paket baterai 75 kWh, motor listrik 214 hp, dan range proyeksi 282 mil.
Jujur saja, Eclipse Sportback pada dasarnya adalah Nissan Leaf 2026 dengan ubahan kosmetik. Tapi Mitsubishi tidak setengah-setengah di bagian depan. Kap mesin sama, namun lampu, bumper, dan grille didesain ulang total. Grille baru dengan 20 "gigi"—10 di masing-masing sisi logo tiga berlian—memberi wajah yang jauh lebih agresif dibanding Leaf yang cenderung datar.
Dari samping, ada pelek berbeda dan aksen krom di pilar C yang menyembunyikan handle pintu belakang. Di belakang, huruf Mitsubishi besar di panel liftgate jadi pembeda paling jelas. Sisanya? Ya, itu saja. Ini Leaf dengan beberapa perbedaan trim.
Motor listrik 214 hp dan torsi 261 lb-ft menggerakkan roda depan. Akselerasi 0-60 mph diproyeksikan 6,9 detik—angka yang kami dapat dari pengujian Leaf yang identik secara mekanis. Bukan performa tinggi, tapi lebih dari cukup untuk lalu lintas perkotaan. Menariknya, torsi yang tersalur ke roda depan cukup untuk membuat roda dalam berputar (wheelspin) saat gas ditekan penuh di tikungan.
Suspensinya nyaman berkat sidewall ban 18 inci yang cukup tebal. Radius putar 35,4 kaki membuatnya mudah bermanuver di perkotaan. Ada body roll yang cukup terasa saat diajak kencang, tapi perilakunya tetap bisa diprediksi. Kabinnya juga senyap—hampir tidak ada suara whine dari komponen kelistrikan.
Ada lima level regenerative braking (B1 hingga B5), plus tombol e-Step yang disebut eksekutif Mitsubishi sebagai "B8". Sayangnya, sistem ini tidak memberikan pengalaman one-pedal penuh—mobil tetap butuh injakan rem untuk berhenti total di bawah kecepatan sekitar 8 mph. Creep torque khas mobil matik tetap ada, meski fitur Auto Hold bisa mematikannya setelah berhenti sempurna.
Strategi charging-nya cerdas. Port NACS (Tesla) di fender kanan depan untuk DC fast-charging dengan puncak 150 kW—dari 10 ke 80 persen dalam 35 menit dalam kondisi ideal. Adaptor CCS-to-NACS disertakan. Jika Anda memasukkan DC fast-charger ke navigasi, baterai otomatis melakukan preconditioning untuk charging tercepat. Ada juga port J-1772 di fender kiri untuk AC charging dengan onboard charger 7,2 kW (20-80 persen sekitar 6,5 jam). Kabel portabel dengan pigtail 240V dan 120V jadi standar.
Satu catatan: kecepatan charging 150 kW di 2026 bukan angka yang impresif. Kompetitor seperti Hyundai Ioniq 5 atau Kia EV6 sudah menawarkan 350 kW. Tapi untuk segmen ini, itu mungkin bukan dealbreaker.
Kabin serba hitam memadukan panel jok datar dan diamond-quilted. Material dasbor campuran soft dan hard plastic—tidak lagi terasa seperti mobil murah ala 15 tahun lalu, tapi jelas bukan kelas premium. Satu detail yang mencolok: empat tombol persegi hitam di tengah dasbor untuk Park, Reverse, Neutral, dan Drive. Terlihat seperti komponen aftermarket yang dipasang terakhir menit.
Eclipse Sportback jelas bukan mobil untuk mereka yang mencari performa atau teknologi charging terdepan. Tapi untuk pembeli yang menginginkan EV kompak dengan range memadai, kabin senyap, dan harga masuk akal, ini opsi yang menarik. Kelebihan terbesarnya justru kesederhanaan—tidak ada gimmick, semua bekerja sebagaimana mestinya.
Namun, ada pertanyaan besar yang belum terjawab: apakah mobil ini akan masuk Indonesia? Mengingat Nissan Leaf sendiri tidak lagi dijual resmi di pasar kita dan infrastruktur charging masih terbatas, kemungkinannya kecil. Jika Anda di Indonesia dan tertarik, Anda harus siap dengan jalur importir umum—yang berarti harga bisa melonjak jauh dari prediksi awal. Untuk pasar Amerika, ini rebadge yang jujur dan kompeten. Untuk Indonesia, mungkin lebih realistis menunggu strategi elektrifikasi Mitsubishi yang lebih jelas.