BANJARMASIN — Keyakinan bahwa bulan Shafar membawa kesialan masih tersisa di sebagian masyarakat. Guru Johansyah dalam ceramahnya menegaskan bahwa pandangan tersebut keliru dan bertentangan dengan ajaran Islam. Ia mengajak umat untuk tetap beraktivitas normal, tidak seperti kebiasaan orang-orang zaman jahiliah yang mengurung diri karena takut musibah.
"Jangan seperti orang-orang zaman jahiliah pada bulan Shafar banyak mengurung diri di rumah, sebab takut kalau terjadi sesuatu," ujar Guru Johan seusai Salat Subuh, Ahad.
Menurutnya, tidak ada satu bulan pun yang membawa sial secara otomatis. Semua kejadian terjadi atas izin Allah, termasuk penyakit yang tidak menular dengan sendirinya tanpa kehendak-Nya. Ia menekankan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan di setiap waktu, bukan hanya pada bulan Shafar.
Guru Johan mengutip hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa Shafar juga bulan penuh berkah. "Mungkin ustadz-ustadz atau guru-guru sebelumnya dan sudah ada ulama menyampaikan. Tapi tidak salahnya saya ingatkan kembali, karena masih ada sebagian yang mempercayai/menganggap Shafar bulan sial," katanya.
Dalam Islam, tidak ada istilah bulan nahas. Keyakinan semacam itu merupakan sisa-sisa kepercayaan masyarakat Arab pra-Islam yang sudah dibatalkan oleh syariat.
Guru Johan juga mengingatkan bahwa dalam setahun terdapat empat bulan yang dimuliakan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an. Keempat bulan itu adalah Muharram, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Rajab. "Memang sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur'an dari 12 bulan dalam setahun ada empat diantaranya yang Allah muliakan," jelasnya. Namun, kemuliaan bulan-bulan tersebut tidak berarti bulan lainnya membawa kesialan.
Pada kesempatan yang sama, Guru Johan menyinggung persoalan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang kian mencuat. Ia menegaskan bahwa umat Islam wajib menolak keberadaan LGBT karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
"Kita sebagai seorang atau kaum Muslim harus menolak keberadaan LGBT, karena bertentangan dengan Islam. Kita harus berusaha memotong kegiatan LGBT, karena bisa berdampak terhadap generasi Islam mendatang," tegasnya.
Pernyataan itu disampaikan di hadapan jamaah yang hadir, sebagai bagian dari nasihat agar generasi mendatang tidak terpengaruh oleh gaya hidup yang dianggap menyimpang.