BANJARMASIN — Kecamatan Panyipatan menjadi wilayah paling rawan karhutla di Kalimantan Selatan. Dari 16 titik panas yang terdeteksi di Kabupaten Tanah Laut, sebanyak 14 hotspot berada di kecamatan tersebut.
Habib Hamid mengungkapkan, kawasan rawan lainnya meliputi Pengayuan, Bati-Bati, Banua Raya, Gunung Raja, hingga Tambang Ulang. Ia menyebut kondisi ini harus menjadi alarm serius karena Tanah Laut memiliki banyak lahan kering dan gambut yang mudah terbakar saat kemarau.
Musim kemarau disertai suhu udara tinggi membuat potensi kebakaran permukiman maupun karhutla meningkat. Habib Hamid meminta masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan kompor, instalasi listrik, dan aktivitas lain yang berpotensi memicu api.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Jangan meninggalkan kompor dalam keadaan menyala, periksa instalasi listrik secara berkala, dan segera laporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani lebih cepat,” ujar politikus Fraksi PKS itu, Jumat (17/7/2026).
Meski Banjarbaru belum mengalami lonjakan hotspot signifikan, Habib Hamid meminta kewaspadaan tetap ditingkatkan. Ia menyoroti kawasan Bandara Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Liang Anggang, dan wilayah bergambut lainnya sebagai zona rawan.
Habib Hamid mendesak pemerintah daerah, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat memperkuat langkah pencegahan dan mitigasi agar kebakaran tidak meluas. Ia mengingatkan kabut asap mulai terlihat di sejumlah wilayah sehingga penanganan cepat harus dilakukan sebelum situasi semakin memburuk.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan status siaga darurat karhutla dan meningkatkan pemantauan hotspot di berbagai daerah. Sebelumnya, BNPB mencatat kebakaran lahan sempat terjadi di kawasan Cempaka dan Liang Anggang, Banjarbaru, pada awal Juli 2026.
“Jangan sampai Kalimantan Selatan kembali diselimuti kabut asap seperti tahun-tahun sebelumnya. Pencegahan harus menjadi prioritas, karena ketika api sudah membesar, kerugian yang ditimbulkan jauh lebih besar. Semua pihak harus bergerak bersama sebelum terlambat,” tegas Habib Hamid.