KALIMANTAN SELATAN — Gerakan "kembali ke analog" bukan sekadar nostalgia. Pengunjung toko buku, pemutar kaset, dan kamera film yang kembali naik daun menunjukkan pola serupa. Di ranah wearable, smartwatch yang semula dijanjikan membebaskan pengguna dari genggaman ponsel, justru dinilai oleh sebagian orang sebagai sumber distraksi baru.
Bagi sebagian pengguna, getaran di pergelangan tangan terasa jauh lebih intrusif dibandingkan dering ponsel di saku. Seorang pengguna di forum Whoop, NeoMoose, menyatakan, "I don't want my wrist to communicate with me at all. My phone is already too much distraction."
Ironisnya, ketika notifikasi dimatikan, sebagian pengguna mulai mempertanyakan esensi memiliki smartwatch di tempat pertama. Jika fitur konektivitasnya tidak digunakan, apa bedanya dengan jam tangan biasa?
Fitur yang menumpuk (feature creep) justru membuat pengalaman kebugaran berubah menjadi obsesi. Seorang pengguna Reddit, Adventurous_Rice_731, mengaku menyesal beralih dari Whoop minimalis ke Garmin. "Went to my first [workout] and realized how many times I was actively checking the screen, looking to see if all my reps were recording," tulisnya. Ia merasa terus-terusan menempel pada layar, bahkan saat menonton TV.
Pelacakan kesehatan seperti tidur, stres, dan pemulihan juga hanya berdasarkan estimasi algoritma, bukan pengukuran langsung. Alih-alih menenangkan, data yang tidak akurat justru bisa meningkatkan kecemasan pengguna.
Smartwatch flagship seperti Apple Watch Series 11 dibanderol mulai $399. Varian termurah, Apple Watch SE, dijual $249 namun kehilangan fitur kesehatan kunci seperti ECG dan pemantauan oksigen darah. Di tengah inflasi, nilai tambah notifikasi cepat di pergelangan tangan terasa semakin tidak sebanding dengan harganya.
Bagi yang hanya membutuhkan pelacak aktivitas, ada alternatif lebih murah seperti Google Fitbit Air atau Nothing CMF Watch 3 Pro dengan harga jauh lebih terjangkau.
Dari segi estetika, smartwatch masih kalah dari jam analog klasik. Namun, kekhawatiran lain muncul dari segi keselamatan. Sebuah studi menemukan bahwa pengemudi lebih terganggu oleh notifikasi smartwatch dibandingkan notifikasi ponsel. Melirik ke pergelangan tangan saat menyetir dianggap lebih berisiko daripada melirik ponsel yang terpasang di dashboard.
Keputusan beralih dari smartwatch bukan sekadar soal mode. Ini adalah pilihan sadar untuk mengurangi ketergantungan pada layar dan mengembalikan fokus pada aktivitas nyata.