Perempuan Tabalong Tak Lagi Jadi Korban, Linda Setia Budi Latih Mereka Jadi Garda Depan Penyelamatan Bencana

Penulis: Deni Kurniawan  •  Jumat, 19 Juni 2026 | 17:11:31 WIB
Linda Setia Budi melatih perempuan Tabalong menjadi garda depan penyelamatan bencana.

TANJUNG — Sirine tanda bahaya atau air sungai yang meluap di Kabupaten Tabalong tak lagi otomatis berarti kepanikan dan kebingungan, terutama bagi kelompok rentan. Di tangan Linda Setia Budi, seorang Analis Bencana di BPBD Tabalong, paradigma lama yang mengidentikkan evakuasi dengan dunia laki-laki mulai bergeser.

“Perempuan itu garda terdepan di dalam rumah tangga. Mereka yang paling tahu apa kebutuhan anak-anak, apa obat-obatan yang diperlukan lansia, dan bagaimana menenangkan keluarga yang panik,” ujar Linda, Jumat (19/6/2026).

Bukan Sekadar Konsep: Lahirnya UPBS Srikandi Mura

Gerakan ini bukan hanya wacana. Di lapangan, lahirlah Unit Penanggulangan Bencana Swadaya (UPBS) Srikandi Mura, sebuah unit penyelamat yang seluruh anggotanya adalah perempuan. Mereka tidak hanya dilatih membaca tanda-tanda alam dan memahami jalur evakuasi, tetapi juga menguasai teknologi informasi untuk menyebarkan peringatan dini secara cepat ke komunitasnya.

Dampaknya langsung terasa. Koordinasi dapur umum pengungsian kini dipimpin oleh ibu-ibu terampil yang paham logistik. Bahkan, evakuasi kelompok disabilitas yang sangat rentan saat bencana kini dikoordinasikan oleh perempuan tangguh yang paham betul cara mengevakuasi tanpa menimbulkan trauma tambahan.

Sentuhan Humanis yang Menekan Risiko Korban

Kedekatan emosional yang dimiliki kaum perempuan membuat proses distribusi bantuan menjadi lebih adil dan tepat sasaran. Mereka tahu siapa yang belum makan bubur, bayi mana yang kehabisan popok, dan lansia mana yang belum meminum obatnya. Hasilnya, risiko korban jiwa menurun dan manajemen pascabencana menjadi lebih rapi.

Pemulihan Ekonomi agar Trauma Tak Berlarut

Linda berpikir lebih jauh. Bencana tidak selesai ketika air surut. Masalah sesungguhnya muncul saat dapur rumah tangga berguncang akibat kehilangan mata pencaharian. Melalui RAWAN GULANA DARA KEREN, pemberdayaan perempuan dilanjutkan ke ranah pemulihan ekonomi kreatif.

Kaum wanita korban bencana dilatih dan didampingi untuk membangun usaha kecil. Tujuannya: agar trauma tidak berlarut-larut, dan roda ekonomi keluarga bisa berputar kembali dengan lebih cepat.

Dari Objek Diselamatkan Menjadi Subjek Penyelamat

Kabupaten Tabalong, dengan potensi bencana mulai dari banjir hingga kebakaran permukiman, kini punya benteng pertahanan baru bernama kesetaraan dan kepedulian. Lewat inovasi ini, Linda dan para perempuan Tabalong membuktikan bahwa ketika perempuan terlatih dan diberi ruang, mereka tidak hanya mampu melindungi keluarganya, tetapi juga menjadi pilar yang membuat seluruh komunitas berdiri tegak menghadapi bencana.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: metro7.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top