KALIMANTAN SELATAN — Film kelima waralaba animasi legendaris ini sudah tayang di bioskop Indonesia. Pixar tidak lagi sekadar menghadirkan petualangan seru Woody dan Buzz. Studio justru memilih premis yang lebih berat: bagaimana mainan tradisional bertahan ketika anak-anak lebih memilih menatap layar ketimbang bermain fisik.
Kali ini Jessie, koboi perempuan yang dulu sempat terpinggirkan, justru menjadi pusat cerita. Ia yang mengomandoi seluruh mainan untuk mencari cara agar Bonnie bisa tetap terhubung dengan dunia nyata.
Keputusan naratif ini terasa segar. Woody dan Buzz memang ikonik, tapi Jessie punya perspektif berbeda: ia sudah pernah merasakan ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya. Jadi konflik di film ini terasa lebih personal dan emosional.
Sayangnya, pesan moral soal bahaya gawai disampaikan dengan cara yang kurang halus. Beberapa karakter secara eksplisit mengatakan "zaman mainan sudah berakhir." Padahal metafora visual dan situasi di film sebenarnya sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa perlu dialog yang mendikte penonton.
Bonnie yang berusia delapan tahun digambarkan kesulitan menjalin pertemanan dengan teman seusianya. Orangtuanya kemudian membelikan tablet Lilypad sebagai solusi instan. Alih-alih membantu, gawai itu justru membuat Bonnie semakin terisolasi di dunia pertemanan semu.
Yang membuat Toy Story 5 berbeda dari seri sebelumnya adalah target penontonnya. Pixar sadar penonton yang dulu tumbuh bersama Woody dan Buzz kini sudah dewasa, bahkan punya anak sendiri. Tema yang diangkat pun ikut matang.
Film ini tidak lagi bicara soal kehilangan mainan atau takut ditinggal pemilik. Sekarang pertanyaannya lebih mendasar: apa jadinya mainan jika pemiliknya tidak lagi peduli? Ironis memang, tapi ini realitas yang dihadapi banyak orangtua Indonesia saat ini.
Anak-anak generasi sekarang lebih nyaman dengan gawai. Mainan fisik seperti action figure Buzz Lightyear atau set kereta api Woody perlahan kehilangan daya tariknya. Toy Story 5 mencoba merespons fenomena itu dengan cara yang jujur, meski kadang terlalu terus terang.
Toy Story 5 sudah tayang di bioskop Indonesia. Cocok ditonton orangtua yang ingin mengingatkan anak-anaknya bahwa dunia nyata masih lebih seru daripada layar gawai.