Kabar penutupan ini pertama kali diungkap oleh Kotaku yang mengutip sumber internal. Menurut laporan tersebut, manajemen Microsoft dan pimpinan Compulsion Games saat ini masih dalam tahap "negosiasi" mengenai masa depan studio. Namun, nasib para pengembang tampaknya sudah di ujung tanduk. Belum ada konfirmasi resmi dari Microsoft, dan GameSpot telah menghubungi perusahaan untuk meminta tanggapan.
Laporan ini muncul di tengah periode yang tidak stabil bagi divisi gim Microsoft. Sebuah laporan sebelumnya mengindikasikan bahwa Microsoft akan memangkas staf dan berpotensi menutup studio lain pada Juli 2024, tepat setelah tahun fiskal perusahaan berakhir pada 30 Juni. Situasi ini diperparah dengan hengkangnya Craig Duncan, bos Xbox Game Studios, beserta kepala stafnya baru-baru ini.
CEO Microsoft, Satya Nadella, belum lama ini juga membuat pernyataan yang mengindikasikan perubahan besar di Xbox untuk memperbaiki stabilitas ekonomi perusahaan. Ia menyebut perlunya "perubahan" yang mungkin tidak nyaman bagi banyak pihak di internal.
Bukan hanya Compulsion yang bernasib buruk. Laporan terpisah dari Mike Straw dari Insider Gaming menyebutkan bahwa Arkane, studio di balik seri Dishonored dan Deathloop, juga akan ditutup. Ini bukan pertama kalinya Microsoft memangkas studio Arkane. Sebelumnya, Arkane Austin sudah ditutup pada Mei 2024. Satu-satunya cabang yang selamat untuk saat ini adalah Arkane Lyon, yang tengah menggarap gim Marvel's Blade yang sangat dinanti.
Yang membuat keputusan ini terasa kontradiktif adalah prestasi Compulsion Games. Studio yang diakuisisi Microsoft pada 2018 ini baru saja merilis South of Midnight, sebuah gim yang mendapat pujian kritis tinggi dan memenangkan Peabody Award. Penghargaan tersebut merupakan salah satu pengakuan tertinggi dalam industri hiburan. Penutupan studio di tengah kesuksesan artistik ini menimbulkan tanda tanya besar soal strategi Microsoft dalam mengelola aset kreatifnya.
Dalam sebuah memo internal yang bocor, CEO Xbox, Asha Sharma, telah memperingatkan akan adanya perubahan besar dan sulit dalam 100 hari ke depan. "Bagi sebagian dari kalian, kenyataan ini akan mengejutkan dan bahkan membuat frustrasi," tulis Sharma kepada staf. "Kami tidak akan berhasil dengan menyembunyikan kebenaran yang pahit, juga tidak akan berhasil dengan melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda." Pernyataan ini kini terbaca sebagai pertanda gelombang PHK yang akan datang.
Bagi para gamer Indonesia, kabar ini mungkin tidak langsung terasa, tetapi ini adalah sinyal buruk bagi industri. Penutupan studio kreatif yang baru saja menghasilkan gim berkualitas menunjukkan bahwa fokus Microsoft kini lebih pada efisiensi biaya daripada eksperimen artistik. Jika tren ini berlanjut, gim-gim dengan cerita unik dan inovatif seperti South of Midnight mungkin akan semakin jarang muncul dari lini first-party Xbox.