KALIMANTAN SELATAN — Lonjakan harga ini mengerek harga buyback atau pembelian kembali emas Antam ke level Rp2.611.000 per gram. Selisih antara harga jual dan harga beli kembali mencapai Rp100.000 per gram, yang merupakan margin standar yang mencakup biaya produksi, ongkos cetak, dan marjin keuntungan.
Kenaikan harga emas Antam sejalan dengan pergerakan harga emas dunia yang terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir. Investor global masih memburu aset safe haven di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga emas di pasar spot bertengger di kisaran USD 2.950 per troy ounce pada Jumat (12/6) waktu New York. Level ini merupakan yang tertinggi sejak awal Juni 2026.
Berikut harga emas Antam untuk beberapa pecahan yang paling banyak diminati investor ritel dan pelaku industri:
Harga tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan 0,9 persen bagi yang tidak memiliki NPWP. Pembeli yang tidak memiliki NPWP dikenakan tarif lebih tinggi sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.
Bagi investor yang sudah memegang emas Antam, kenaikan ini berarti keuntungan kertas (paper profit) yang semakin tebal. Selisih harga jual saat ini dengan harga beli beberapa bulan lalu bisa mencapai puluhan persen, tergantung waktu akuisisi.
Namun, investor yang berniat merealisasikan keuntungan perlu mencermati harga buyback. Saat menjual kembali emas ke Butik Logam Mulia Antam, investor hanya akan mendapatkan Rp2.611.000 per gram, bukan harga jual Rp2.711.000. Selisih Rp100.000 itu menjadi biaya yang tidak bisa dihindari.
Analis komoditas memperkirakan harga emas masih berpotensi menguat dalam jangka pendek. Sikap dovish bank sentral AS, The Federal Reserve, yang memberi sinyal akan memangkas suku bunga pada semester II 2026 menjadi katalis utama bagi logam mulia.
Suku bunga yang lebih rendah menekan imbal hasil obligasi dan dolar AS, dua faktor yang biasanya mendorong investor beralih ke emas sebagai penyimpan nilai. Namun, volatilitas tetap tinggi dan investor disarankan tidak melakukan aksi kejar harga (FOMO) tanpa strategi keluar yang jelas.