IHSG BEI Dibuka Menguat di Tengah Ekspektasi Meredanya Konflik Iran-Israel, Investor Incar Dividen

Penulis: Andi Pratama  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 13:30:31 WIB
IHSG BEI dibuka menguat tipis di posisi 5.344,69 pada Selasa pagi.

JAKARTA — IHSG dibuka menguat tipis 2,55 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.344,69. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut naik 1,22 poin atau 0,23 persen ke level 528,30.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyarankan investor untuk melirik strategi dividend investing di tengah volatilitas pasar. “Ketika momentum pasar sedang sulit menghasilkan capital gain dalam jangka pendek, investor setidaknya masih memperoleh cash return melalui dividen sambil mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang jauh lebih murah dibanding beberapa bulan lalu,” ujarnya dalam kajian di Jakarta, Selasa.

Katalis Global dan Sikap AS-Iran

Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mendorong gencatan senjata antara Iran dan Israel. Trump menegaskan bahwa negosiasi damai dengan Iran masih berlangsung, meskipun blokade AS terhadap Iran tetap berlaku hingga kesepakatan final soal program nuklir tercapai.

Kendati kedua negara untuk sementara menghentikan serangan, situasi disebut masih rapuh. Iran mengancam akan kembali menyerang jika Israel melanjutkan operasi terhadap Hezbollah di Lebanon. Sementara itu, Israel berjanji akan merespons dengan kekuatan besar apabila diserang lagi.

Harga Minyak Melemah, Data Inflasi AS Jadi Sorotan

Seiring meredanya ketegangan, harga minyak mentah global justru bergerak melemah. Minyak jenis WTI turun 0,46 persen ke level 90,88 dolar AS per barel, dan Brent turun 0,35 persen ke level 93,92 dolar AS per barel.

Pekan ini, pelaku pasar akan fokus pada data inflasi Amerika Serikat. Data Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 dijadwalkan rilis Rabu (10/06), disusul Producer Price Index (PPI) pada Kamis (11/06). Goldman Sachs bahkan menunda proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed hingga 2027 dan menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga menjadi 20 persen dari sebelumnya 10 persen.

Cadangan Devisa Terus Terkikis, Danantara Disorot

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026, dari sebelumnya 146,2 miliar dolar AS pada April 2026. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan selama lima bulan berturut-turut sejak puncaknya di 156 miliar dolar AS pada Desember 2025.

Bank Indonesia menyebut penurunan tersebut akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi untuk stabilisasi rupiah di tengah volatilitas global. Meski begitu, posisi cadangan devisa saat ini masih setara 5,6 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Di sisi lain, perhatian pasar beralih ke Danantara. Dony Oskaria menegaskan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan mengambil margin dari ekspor komoditas strategis, hanya mengenakan biaya layanan untuk pengawasan dan verifikasi. Namun, Peraturan Pemerintah No.19/2026 yang membuka peluang suntikan APBN ke holding investasi itu memicu kekhawatiran.

Liza menyebut sejumlah ekonom menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan risiko fiskal. “Dengan status baru sebagai instrumen fiskal pemerintah dan kemungkinan memperoleh PMN dari APBN, investor diperkirakan akan semakin mencermati apakah Danantara mampu menjadi katalis investasi nasional atau justru berkembang menjadi tambahan beban bagi fiskal negara,” ujarnya.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: kalsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top