BANJARBARU — Pemerintah Kota Banjarbaru mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan sistem perbankan digital melalui peluncuran Bank Sampah "Sipalui" di lingkungan sekolah. Inovasi ini menyasar generasi muda agar memiliki kebiasaan memilah sampah sekaligus menabung secara otomatis sejak usia sekolah dasar.
Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby meresmikan langsung program tersebut di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Kemuning, Jumat. Program ini tidak sekadar mengajarkan siswa menjaga kebersihan, tetapi juga mengenalkan ekosistem keuangan digital melalui kolaborasi dengan perbankan daerah.
Mekanisme Bank Sampah Sipalui telah terintegrasi dengan produk Simpanan Pelajar (Simpel) milik Bank Kalsel. Melalui sistem ini, setiap sampah yang dikumpulkan dan disetorkan oleh siswa akan dikonversi menjadi nilai rupiah yang langsung masuk ke rekening masing-masing.
"Melalui mekanisme tersebut, hasil penjualan sampah yang dikumpulkan siswa langsung masuk otomatis ke rekening tabungan masing-masing siswa tanpa menggunakan transaksi tunai," ujar Lisa di Kota Banjarbaru.
Sistem nirtunai ini diharapkan memudahkan pelajar dalam memantau hasil jerih payah mereka dalam memilah limbah harian. Pola ini juga meminimalkan risiko kehilangan uang tunai dan memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai cara kerja perbankan modern.
Lisa menyebutkan bahwa program ini merupakan langkah nyata dalam membangun karakter generasi muda yang melek teknologi. Selain memiliki literasi keuangan yang baik, para siswa diarahkan untuk memahami prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle) dalam kehidupan sehari-hari mereka.
"Sampah jangan hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dapat menjadi sumber daya bernilai ekonomi apabila dikelola dengan baik," ucap wali kota perempuan pertama di Kota Idaman Banjarbaru tersebut.
Edukasi lingkungan di sekolah kini tidak lagi sebatas teori di dalam kelas. Dengan adanya Bank Sampah Sipalui, siswa memiliki wadah praktik langsung untuk melihat bagaimana tindakan kecil memilah sampah dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi tabungan masa depan mereka.
Selain dikonversi menjadi saldo tabungan, para siswa juga didorong untuk mengolah sampah menjadi produk hastakarya. Hasil kerajinan tangan dari barang bekas ini diharapkan memiliki nilai jual yang dapat dipasarkan di lingkungan pendidikan maupun platform digital.
Lisa berharap budaya menabung dan peduli lingkungan ini menjadi bekal ilmu yang kuat bagi siswa saat mereka beranjak dewasa. Pemanfaatan media digital dalam pemasaran produk kreatif siswa juga menjadi bagian dari upaya digitalisasi sekolah secara menyeluruh di Banjarbaru.
Program ini rencananya akan terus dikembangkan ke sekolah-sekolah lain di wilayah Banjarbaru untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang hijau dan tanggap teknologi.