Pencarian

Praktisi UNISKA Banjarmasin Sebut Karhutla Kalsel Picu Efek Domino ke Kesehatan hingga Harga Pangan

Minggu, 04 Oktober 2026 • 09:16:01 WIB
Praktisi UNISKA Banjarmasin Sebut Karhutla Kalsel Picu Efek Domino ke Kesehatan hingga Harga Pangan
Praktisi UNISKA MAB Banjarmasin, Muhammad Junaidi, menilai karhutla di Kalsel menimbulkan dampak berantai terhadap kesehatan dan perekonomian.

BANJARMASIN — Muhammad Junaidi, S.E., M.M., praktisi di Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) MAB, menilai karhutla di Kalsel menyimpan ancaman kerugian ekonomi yang jauh lebih besar daripada lahan hangus dan kepulan asap yang terlihat. Gangguan kesehatan, aktivitas sekolah, produktivitas pekerja, hingga transportasi dan distribusi barang bisa ikut terdampak ketika kabut asap memburuk.

Efek Berantai yang Tak Terlihat di Hari Pertama

Junaidi menjelaskan, dampak karhutla bekerja sebagai rantai yang saling menyambung. Api yang membakar lahan memicu masalah kesehatan, lalu mengganggu aktivitas kerja dan sekolah, sebelum akhirnya melemahkan kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat.

"Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat ikut melemah," kata Junaidi.

Ketika kualitas udara memburuk, gangguan pernapasan masyarakat berpotensi meningkat. Pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan pun bertambah, sementara produktivitas pekerja menurun karena aktivitas di luar rumah harus dikurangi.

Penerbangan hingga Perdagangan Lokal Ikut Terdampak

Dampak serupa merembet ke sektor pendidikan. Kegiatan belajar tidak bisa berjalan normal saat kondisi udara tidak memungkinkan. Transportasi dan distribusi barang juga berpotensi terganggu ketika jarak pandang menurun.

"Bisa jadi menjalar ke penerbangan dan transportasi, distribusi barang, perdagangan lokal serta aktivitas masyarakat sehari-hari," jelasnya.

Wilayah yang bergantung pada sektor pertanian menghadapi persoalan lebih kompleks. Kondisi kering berkepanjangan memengaruhi ketersediaan air dan produksi pangan. Jika berlangsung lama, tekanan itu berpotensi berimbas pada harga pangan dan pendapatan masyarakat.

Pencegahan sebagai Investasi Ekonomi

Junaidi menilai penanganan karhutla tidak semestinya hanya dilihat sebagai urusan pemadaman api. Pencegahan bencana, menurutnya, juga merupakan bagian dari menjaga roda perekonomian tetap bergerak.

"Ketika kebakaran berhasil dikendalikan sebelum meluas, maka tidak ada aktivitas ekonomi yang berhenti. Ketika sistem peringatan bekerja dengan baik, maka masyarakat dapat mengantisipasi risiko lebih awal," ujarnya.

Kesiapan logistik dan peralatan menjadi faktor penentu. Keberadaan personel, peralatan, dan logistik yang siap digunakan memungkinkan respons dilakukan lebih cepat sebelum kondisi memburuk.

Ironinya, keberhasilan pencegahan jarang tercatat dalam statistik ekonomi. Yang lazim tercatat adalah kerugian setelah bencana terjadi, sedangkan kerugian yang berhasil dicegah tidak terlihat karena bencananya tidak sampai meluas.

"Terkadang memperkirakan biaya sebuah bencana setelah terjadi dapat dilakukan dengan mudah. Namun memperkirakan kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja jauh lebih sulit. Padahal secara ekonomi nilainya bisa sangat besar," katanya.

Kapasitas Anggaran Jadi Kunci

Prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati, kata Junaidi, bukan hanya berlaku dalam persoalan sosial dan kesehatan. Prinsip itu memiliki logika ekonomi yang kuat karena biaya kesiapsiagaan bisa direncanakan dan dianggarkan sejak awal.

Sebaliknya, ketika bencana sudah membesar, biaya penanganan menjadi jauh lebih sulit dikendalikan. Dalam konteks meningkatnya risiko El-Nino dan karhutla, ia menilai kapasitas penanggulangan bencana perlu diperkuat, termasuk kapasitas anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan jajaran penanggulangan bencana di daerah.

Namun Junaidi menegaskan, ukuran keberhasilan bukan semata-mata dilihat dari besarnya anggaran yang disiapkan. Yang lebih penting adalah apakah kapasitas pencegahan dan respons benar-benar tersedia saat dibutuhkan.

Mulai dari pemantauan risiko, early warning system, kesiapan personel, logistik, pemeliharaan peralatan, koordinasi dengan BPBD, hingga kemampuan merespons cepat ketika titik api mulai muncul.

"Karena itu, ketika risiko El-Nino dan karhutla meningkat, kapasitas penanggulangan bencana tidak seharusnya justru melemah," tegasnya.

Di Kalsel, upaya penanganan karhutla terus dilakukan pemerintah daerah bersama berbagai pihak. Data penanganan sebelumnya menunjukkan luas lahan terdampak masih menjadi perhatian serius, sehingga pencegahan dan respons cepat menjadi kunci agar api tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalimantanpost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks